Tak Kenal Pesantren, Mufidah Remaja Hafal Qur’an 30 Juz Bercita-cita Jadi Guru Qur’an, Ingin Pesantren. Ayo Bantu...!!!

MasyaaAllah, sebuah prestasi gemilang disandang Mufidah Khairunnisa (13), seorang anak tukang servis elektro yang tak kenal Pesantren namun mampu menghafalkan Al-Qur'an 30 Juz. Sayangnya torehan kebanggaan itu berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi dan keluarga yang serba kekurangan. Kini ia butuh biaya 14 juta untuk masuk ke Pesantren demi mempertahankan hafalan Qur'an dan meraih cita-cita menjadi guru Quran. Ayo bantu...!!

 

BANJARNEGARA, Infaq Dakwah Center (IDC), Mufidah Khairunnisa (13), anak tukang servis elektro ini mendambakan sekolah di Pesantren untuk menjaga hafalan Qur'annya dan meraih cita-cita menjadi guru Qur'an. Namun keinginan anak asal "Negri Diatas Awan (Dieng)" ini rontok, karena keluarganya tak sanggup membayar mahalnya biaya di pondok.

Bapak Poniti Al Shodiqin (49), sang Ayah tak bisa mengandalkan hasil dari jerih payahnya sebagai jasa servis elektro panggilan. Sebab jasa servis tak menentu, sering kali Poniti hanya diberi imbalan uang sebesar 30 ribu rupiah dan itu hanya cukup untuk makan keluarganya. Sementara sang Bunda, Ibu Bingah (45) sudah hampir dua tahun hanya tergolek lemas akibat sakit tumor otak yang dideritanya.

"Ibu ingin saya jadi anak yang sukses, sholihah dan menjadi penghafal Al Qur'an. Saya ingin membanggakan keluarga saya terutama ibu saya. Saya sangat sayang dengan ibu saya, karena dia yang melahirkan saya. Kalau tidak ada dia maka saya juga tidak ada. Karena itu saya terus belajar menghafalkan Al-Qur'an. Pernah saya diminta disampingnya di tempat tidur waktu pertama kali suruh membacakan hafalan saya, ibu itu menangis, saya juga jadi ikut nangis," ucap Mufi lirih dan air matanya pun meleleh di pipinya.

Saat dikunjungi Relawan IDC, Mufidah pun memohon kepada donatur IDC agar mewujudkan mimpi terbesar dalam hidupnya menjadi Hafidzah, Sholihah dan Ustadzah. Dibutuhkan biaya Pesantren hingga lulus selama 6 tahun sebesar 14 juta rupiah.

"Kepada donatur IDC, saya ingin bersekolah di Pondok. Saya ingin membantu keluarga saya khususnya keluarga saya. Ibu saya yang saat ini sedang sakit. Saya ingin nanti mempersembahkan hafalan saya, ilmu-ilmu saya pada orang tua saya, agar kelak saya bisa memberikan mahkota kepada ibu saya, bapak saya," ungkap Mufi sambil mengusap air mata.

EKONOMI KELUARGA MIRIS, SANG BUNDA SAKIT TUMOR OTAK, HARAPAN MELIHAT TIPIS

Keluarga Mufidah Khairunnisa saat ini sedang diuji oleh Allah bertubi-tubi. Penghasilan sang ayah yang hanya pas-pasan, tak cukup untuk biaya sekolah. Apalagi di satu rumahnya masih ditambah penghuni keluarga kakaknya yang telah memiliki dua anak, juga menjadi beban keluarga.

Ditambah lagi, Bingah (45) sang bunda kini terbaring lemah di kasur kamar rumah karena sakit tumor otak yang menyebabkan buta di kedua matanya. Sakit itu dialami sejak 2 tahun lalu, sebab sering merasakan pusing amat sangat dan vertigo.

Bingah sang bunda Mufidah memang sudah operasi bedah tempurung otak di Rumah Sakit (RS) Sarjito Yogyakarta. Efek operasi pengangkatan tumor di kepala itu sudah diprediksi dokter bedah jika sang pasien akan mengalami buta permanen.

Tempurung kepala yang di operasi pun masih belum dikembalikan di posisi semula karena tak ada biaya transportasi 1,5 juta rupiah sekali jalan dari Dieng ke Yogyakarta untuk berobat.Mufidah pun pasrah dengan kondisi ibunya yang sangat mencintai dan selalu berpesan agar ia jadi anak sholehah yang harus terus belajar Qur'an.

"Penyebab lain anak saya Mufidah absen sekolah itu, selain saya yang berpenghasilan tak menentu ya itu, harus membantu mengurusi rumah dan mengurusi ibunya. Kalau pas saya keluar dapat panggilan servis, istri saya yang ngurusi ya anak saya ini. Dari mulai makannya, menuntun ke kamar mandi, mengingatkan sholat, membersihkan rumah, menyapu, mencuci. Jadi Mufi yang mengurusi semua," ucap Poniti pada Relawan IDC, Rabu (11/5/2022).

Banyaknya tekanan hidup keluarga, tak membuat Mufidah putus asa untuk terus belajar. Meski statusnya kini tak bersekolah, ia tetap optimis belajar di Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) Qur'anul Hidayah yang tak jauh dari rumahnya.

ABSEN SEKOLAH SATU TAHUN, TERNYATA TUNTASKAN QURAN 30 JUZ

Sudah absen setahun tak sekolah, Mufidah Khairunnisa ingin sekali kembali bersekolah terutama masuk ke Pesantren untuk mondok belajar Qur'an agar cita-citanya tercapai.

Karena itu, Mufidah gigih belajar Al Qur'an di TPQ Qur'anul Hidayah. Ustadz Ahmad Husni Mubarok, Sang Guru ngaji membenarkan bahwa santriwati didikannya sudah berhasil menghafal Al-Qur'an 30 Juz.

Sejak kelas 6 Sekolah Dasar (SD), Mufidah telah ikut mengaji di TPQ yang mengampu 225 anak santri itu. Usai lulus SD itu, oleh Ustadz Husni, ia digembleng dengan target, sebelum baligh harus bisa rampungkan hafalan Al Qur'an. Dan dari dampak selama pandemi Corona justru membuat Ustadz Husni menerapkan metode cepat menghafal Qur'an untuk kelas tahfidz termasuk bagi Mufidah.

Setiap hari, bada sholat asar dan magrib, Mufidah menyetorkan 2 lembar hafalan Al Qur'an. Jadi sehari minimal bisa 4 lembar hafalan dengan mengulang hafalan yang telah diselesaikan hari lalu. Jika di TPQ tidak ada kesibukan, ia memilih menyendiri di ruang kelas untuk mengulangi hafalan yang sudah ia miliki.

"InsyaAllah, ananda Mufi itu sudah selesaikan hafalannya 30 Juz Al Qur'an. Karena saya sendiri yang menyimak hafalannya, saya sendiri yang menerapkan metodenya ke anaknya itu. Silahkan, bisa di tes sendiri anaknya, mau ditunjuk surat apa ayat berapa, insyaAllah dia bisa membacakannya hafalannya itu," kata Ustadz Husni pada Relawan IDC.

Kabar, "Remaja Hafal 30 Juz" mulai tersebar di Desa Dieng Kulon. Banyak warga sekitar menyaksikan kesibukan Mufidah menghafalkan Al-Qur'an disela-sela aktifitasnya.  Rohmad, kepala seksi Kesejahteraan Masyarakat (Kasi Kesra) Desa Dieng Kulon membenarkan berita tersebut. Ia berharap hadirnya IDC yang membantu keluarga Mufidah bisa menginspirasi umat Islam, bahwa keluarga yang tidak mampu, dan seorang anak yang tak mengenyam bangku Pondok mampu menghafalkan Al Qur'an.

"Saya mendengar kabar itu dan sudah mengkroscek ke banyak warga. Mufidah Khairunnisa ini anaknya pak Poniti warga yang kurang mampu, memang hafal Al-Qur'an. Kegiatannya setiap hari sering bawa Qur'an, tetangganya sering iri melihat kalau pas nyapu itu sambil mulutnya komat-kamit baca Qur'an. Tentu kami mengapresiasi anak ini karena bisa menjadi  Hafidzah di desa kami. Ini kebanggaan desa kami, semoga menjadi keberkahan kami," tutur Rohmad. 

INFAQ CERDAS: BEASISWA PEDULI MUFIDAH KHAIRUNNISA

Mufidah berharap semoga saudara kaum muslimin yang membaca kisah ini tergerak hatinya untuk membantu biaya pendidikan sampai tamat di pondok pesantren dan agar bisa menjadi generasi Muslimah, Hafidzah yang shalihah.
 
Dibutuhkan biaya sebesar 14 juta rupiah untuk biaya masuk pondok pesantren di Banjarnegara, Jawa Timur dan kebutuhan spp hingga lulus.
 
Mari ulurkan Cinta kasih dan kepedulian kita kepada Mufidah Khairunnisa.
 
Insya Allah harta yang kita infakkan untuk membiayai kaum dhuafa yang bersemangat menuntut ilmu Al Qur'an diganti Allah dengan rezeki yang lebih baik, dan menjadi sebab (wasilah) pertolongan Allah di dunia dan akhirat.

وَمَآأَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (Qs Saba’ 39).

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari manusia pilihan, para shahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para Ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba istimewa pilihanNya” (HR Ahmad).

إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:  صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal: Shadaqah Jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya" (HR Muslim).
 
Rekening Yayasan Infaq Dakwah Center:
 
1. Bank Syariah Indonesia (BSI), No.Rek: 7050.888.422.

2. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005.

3. Bank DKI Syariah, No.Rek: 7052.4715.862.

4. Bank BJB Syari’ah, No.Rek: 006010.2072.450.

5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539.

6. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108.

7. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176.

8. Bank BCA, No.Rek: 1641.999.666.

9. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.728.9.

10. Bank BNI, No.Rek: 5353.5757.10.

11. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302.

12. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300.
 
*) Semua rekening atas nama: Yayasan Infaq Dakwah Center.
 
 
 
 
CATATAN:
  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 2.000 (dua ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.002.000,- Rp 502.000,- Rp 202.000,- Rp 102.000,- 52.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqdakwahcenter.com.
  • Donasi disampaikan dalam bentuk beasiswa sampai tamat insya Allah.
  • Bila biaya program ini sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info & Konfirmasi: 08122.700020.