Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Yatim Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

 

Sejak sang suami wafat pada tahun 2013, Aisyah berjuang menjadi ibu sekaligus ayah demi menghidupi kelima putera puterinya. Meski divonis mengidap kanker kelenjar tiroid, namun ikhtiarnya untuk menghidupi tak pernah putus demi mewujudkan cita-cita anak-anaknya menjadi juru dakwah dan penghafal Al-Qur’an. Dua anaknya di pondok pesantren sudah menghafal Al-Quran sebanyak 17 juz dan 5 juz, Namun saat ini Aisyah sedang dilanda kesulitan karena kondisi fisiknya semakin lemah, Butuh biaya pengobatan dan pendidikan anaknya di pesantren. Ayo Bantu..!!

 

JAKARTA, Infaq Dakwah Center (IDC) - Aisyah, wanita muallaf kelahiran Jakarta, 40 tahun silam ini harus menjalani ujian hidup bertubi-tubi.

Lahir dari seorang ayah Piet Blond berdarah Jerman dan Ibu Tuti, berdarah Jawa, Aisyah yang bernama asli Evriyanti Evelyn, awalnya hidup di tengah keluarga Kristen Katolik yang taat. Bagaimana tidak, kakek Aisyah di Jerman adalah seorang pastur. Maka tak heran bila sang ayah penganut Katolik fanatik.

Sejak kecil hingga remaja, Aisyah selalu ditanamkan iman Katolik. Bahkan ia secara rutin beribadat di gereja Santo Yosep Matraman, Jakarta Timur dan mengikuti sekolah minggu Kolonia. Pendidikan agama Katolik tersebut menjadikan Aisyah meyakini doktrin trinitas, yang menjadi inti ajaran Kristen sebagaimana Amanat Agung dalam Perjanjian Baru,

“…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Matius 28:18-20).

Perkenalan Aisyah dengan Islam, berawal sejak dirinya duduk di bangku kelas tiga SMP. Ia takjub ketika melihat teman-temannya yang Muslim mengamalkan ajaran Islam.

“Ini kok beda dengan keluarga saya, dengan papah yang Katolik dan mamah yang Kejawen. Berikutnya saya resah. Kemudian suatu malam saya bermimpi berkali-kali, ada orang yang membacakan surat Al-Ahad (Al-Ikhlas). Mimpi saya itu terjadi waktu saya sudah SMK,” kata Aisyah kepada Relawan IDC, Kamis (5/4/2018).

Mimpinya itu pun membekas di hati. Surat Al-Ikhlas yang sering ia dengar di sekolah, hingga terbawa mimpi, menjadi penghantar bagi dirinya mendapatkan hidayah. Dari sinilah ia memahami bahwa Allah itu Esa, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, sebagaimana FirmanNya,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤ 

Katakanlah (Muhammad) "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas 1-4)

Tak ingin menyi-nyiakan datangnya hidayah. Tanpa ragu lagi, saat duduk di bangku SMK itulah, Evriyanti Evelyn mengikrarkan dua kalimat syahadat dan mengganti nama hijrahnya menjadi Aisyah.

 “Hal yang membahagiakan saya, semenjak saya masuk Islam saya merasa tentram dan nyaman. Saya belum pernah merasakan ketentraman batin seperti yang saya rasakan ketika masuk Islam,” ujarnya.

...Meski mendapat penentangan keras, Aisyah berusaha secara perlahan mengenalkan dakwah tauhid kepada keluarganya... 

Namun, jalan yang ia tempuh itu tak berjalan mulus. Pihak keluarga menentang keras keputusannya tersebut.

“Dengan kesadaran sendiri saya memutuskan untuk masuk Islam tetapi ditentang oleh keluarga terutama papah. Sehingga saya pernah diusir keluar dari rumah. Tapi dari situ saya tetap sabar, saya meminta maaf kepada papah saya atas pilihan hidup saya itu,” ujarnya.

Meski mendapat penentangan keras, Aisyah berusaha secara perlahan mengenalkan dakwah tauhid kepada keluarganya. Hal itu dimulai dari Sang Ibu, hingga akhirnya mendapatkan hidayah memeluk Islam.

Sampai suatu saat, sang Ayah, Piet Blond yang Katolik, akhirnya luluh mendapatkan hidayah memeluk Islam pada tahun 2001 dan mengganti namanya menjadi Muhammad Edy Arifin.

Namun sayang, di tengah kebahagiaan yang pada akhirnya seluruh keluarga memeluk Islam, sang ayah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah setahun kemudian.

“Kakek saya sangat menentang sekali keadaan kami waktu itu. Ketika papah saya menerima keadaan saya (sebagai Muslimah), keluarga besar papah putus hubungan, semua keluarga tidak ada yang menerima. Apalagi ketika papah masuk Islam dan meninggal dunia mereka tidak mau hadir,” tutur Aisyah sambil meneteskan air mata.

Hidup sebagai yatim pasca ditinggal wafat sang ayah, Aisyah pun berusaha meringankan beban orang tua usai lulus sekolah dengan bekerja dan menjadi tulang punggung bagi keluarga demi menghidupi orang tua dan adik-adiknya yang masih kecil.

UJIAN HIDUP DATANG SILIH BERGANTI, NAMUN TETAP IKHLAS, TEGAR DAN TABAH MENGHADAPI TANPA MENGELUH

Dalam perjalanan hidupnya, Aisyah akhirnya menemukan pemuda Muslim sebagai sandaran hati. Ia menikah dengan Emong Hesprihantos dan dikaruniai lima orang anak, mereka adalah Ammar Farras Zahid, Biyan Fakhri Ramadhan, Chairil Fasha Izzani, Chairul Aliy Al Barra dan Chaira Najma Syakira.

Tetapi di balik kebahagiaan pernikahannya, Aisyah harus menghadapi ujian dan cobaan yang datang silih berganti.

Dari kelima buah hatinya, Allah Ta’ala menguji Aisyah dengan kedua anaknya, yakni Ammar Farras Zahid yang menderita autis dan Chaira Najma Syakira yang sejak kecil menderita tunarungu sekaligus tunawicara (bisu tuli).

Ujian berikutnya datang tiba-tiba. Sang suami, Emong Hesprihantos yang tengah mengais rejeki untuk keluarga, mengalami kecelakaan di jalan, hingga meninggal dunia pada tahun 2013.

Aisyah pun harus menghidupi kelima anak yatimnya seorang diri. Meski demikian, ia tak mengeluh, bahkan menganggap ujian tersebut sebagai anugerah yang harus dihadapi dengan tabah.

“Semenjak suami tidak ada, keadaan memang menjadi semakin sulit buat kami. Apalagi saat ini saya masih memiliki anak-anak yang masih kecil,” tuturnya.

..Meski ujian datang silih berganti, Namun ia sangat bersyukur karena Allah karuniakan anugerah dibalik ujian tersebut yaitu dengan memberikan anak-anak yang cerdas, berprestasi dan hafal Al-Qur'an..

Tak berhenti sampai di situ, pasca wafatnya sang suami, Aisyah kini sakit-sakitan. Kondisi tubuhnya amat lemah, bahkan untuk menggendong anaknya pun tak sanggup. Fisiknya tak bisa sedikit pun lelah, jika itu terjadi ia bisa tak sadarkan diri.

“Mungkin karena pikiran yang terlalu berat, saya menderita penyakit kelenjar getah bening. Kalau sedang kambuh sering pingsan di jalan. Kalau keadaannya sangat lemah sekali sering tidak bisa bangun dari tempat tidur. Bahkan kalau sedang kambuh, lidah, tenggorokan tidak berfungsi untuk makan,” ungkapnya.

Selain menderita kanker kelenjar getah bening (limfoma), Aisyah juga didiagnosa mengidap penyakit leukimia.

Dua penyakit kanker yang berbahaya itu, membuat Aisyah sulit beraktivitas. Ia kini tak lagi bisa menjadi tulang punggung keluarga, menghidupi anak-anak yatimnya. Jangankan bekerja, beraktivitas normal seperti sedia kala pun sulit baginya. 

“Alhamdulillah, saya dibantu ibu saya sekarang. Saya tinggal bersama ibu saya dan kelima anak saya. Dari situ saya berusaha untuk bertahan hidup. Memang ada saja kendala, diantaranya kesehatan anak-anak jadi kurang terpantau. Apalagi anak saya yang paling kecil sudah tiga tahun ini belum bisa bicara dan belum bisa berjalan, itu yang sangat menyita energi,” paparnya.

Aisyah bersama ibunya, tinggal mengontrak di sebuah rumah petak, di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Di kontrakan yang sempit itu, ia tinggal bersama ibu dan kelima orang anaknya.

Kondisinya amat memprihatinkan, satu-satunya mata pencaharian untuk bertahan hidup, hanya dari sang Ibu yang setiap hari berdagang nasi uduk dan gorengan.

Meski ujian datang silih berganti, Namun ia sangat bersyukur karena Allah karuniakan anugerah dibalik ujian yang menimpanya yaitu dengan deikaruniai anak-anak yang cerdas dan berprestasi. Anak kedua Aisyah, Biyan Fakhri Ramadhan, kini sudah menghafal 17 juz Al-Qur'an, sedangkan anak ketiganya, Chairil Fasha Izzani, sudah menghafal 5 juz Al-Qur'an. Mereka menuntut ilmu di pondok pesantren dan bercita-cita menjadi juru dakwah dan penghafal Al-Qur'an.

PEDULI KASIH MUALLAF: AYO BANTU KELUARGA YATIM, DAPATKAN PELUANG MASUK SURGA BERSAMA NABI SEDEKAT DUA JARI

Aisyah sebagai muallaf yang dirundung berbagai ujian, membutuhkan bantuan kaum Muslimin, di antaranya untuk biaya pendidikan anak-anaknya di pesantren, biaya pengobatan penyakit kanker limfoma dan leukimia yang dideritanya, serta untuk kebutuhan hidup dan biaya kontrakan setiap bulannya.

Beban berat yang harus dipikul muallaf Aisyah adalah beban kita semua, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

Semoga dengan membantu meringankan beban muallaf ini, Allah menjadikan kita sebagai pribadi beruntung yang berhak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala.

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...” (HR Muslim).

Infaq untuk membantu kesulitan hidup muallaf Aisyah bisa disalurkan dalam program Peduli Kasih Muallaf:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  1. Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 9.000 (sembilan ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.009.000,- Rp 509.000,- Rp 209.000,- Rp 109.000,- 59.000,- dan seterusnya.
  2. Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqdakwahcenter.com.
  3. Bila bantuan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  4. VIDEO: https://www.youtube.com/watch?v=7o4bBEqiYXI
  5. Info: 08122.700020 - 08567.700020